• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

just an ordinary muslimah with extraordinary dreams

a pluviophile, she loves rain like a pen

It's Me haha

Deepak Bhagya

personal info

rizka betri wijayanti

Birthday: 15 JAN 1996
E-mail: betri.rizka@gmail.com

read

Know more about me


LIFESHOOT

  • 1996-now

    SIBLINGS

    Generasi pertama dari BETRI bersaudara. Adiknya, Haifa Mutiara Betri Nabila (Bila) dan Fathia Betri Nurul Fadila (Tia)

ACTIVITIES

  • 2015-2016

    BEM FMIPA IPB

    Bendahara Departemen Propaganda dan Kaderisasi, BEM FMIPA 2016 Kabinet Sirius

  • 2015-now

    Forum Lingkar Pena Bogor

    Anggota muda Forum Lingkar Pena Bogor angkatan 8

  • 2014-2018 (expected)

    Bogor Agricultural University

    Mahasiswi Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Stories

Al-Biruni's


Sabtu, 16 Juli 2016

Selamat Mudik (Balik, Lebaran)

Selamat Mudik (Balik, Lebaran)

1
Petang itu di sebuah bis yang sedang melaju di bumi kota kecil bagian negara Perancis, tampak seorang gadis yang tengah kebingungan.
Penutup kepala yang ia kenakan menyimpulkan bahwa dirinya memeluk kepercayaan yang tak banyak dapat diterima orang-orang di sekelilingnya, kala itu, di tempat itu.

2
Seorang wanita paruh baya yang berbadan setengah gemuk nampak tengah mengamati gadis yang duduk tak jauh darinya.
Sembari mengemudikan kendaraan besar yang menjadi kebanggaannya -karena kendaraan ini adalah satu-satunya kendaraan umum yang diperbolehkan masuk ke wilayah tersebut- ia terus memperhatikan sang gadis. Penampilannya berbeda, sangat berbeda dari gadis-gadis yang ia temui biasanya. Sepertinya, memang dia bukan orang sini.

1
Terdengar sebuah suara tengah memanggil-manggil dirinya, "excuze moi?", "pardon moi?"
Gadis itu menengok ke arah datangnya suara yang ternyata dari sang juru kemudi.
Dengan berbekal bahasa Perancis yang tak banyak, bahkan sangat sedikit dan bahasa Inggris yang sudah jarang ia gunakan, gadis itu pun memberanikan diri menyaut sang juru kemudi yang rupanya wanita.
Benar dugaannya, wanita tersebut berbicara menggunakan bahasa yang benar-benar tak dimengerti, meski sudah belajar 3 tahun di bangku SMA dulu -hanya 2 jam, dalam seminggu-.
Lagi, wanita tersebut mencoba berbicara dengan bahasa yang berbeda, bahasa Inggris!
Namun, bahasa Inggris yang terdengar dalam logat Perancis dan sangat pas-pasan itu makin membuatnya tak mengerti.
Ia mencoba bertanya apa maksud dari wanita tersebut, mungkin ia berkata tentang cara memberhentikan bus yang dikemudikannya kini, atau bertanya kemana tujuan sang gadis, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun yang ia dapati tetaplah sesuatu yang sama, bingung.
Sang gadis mencoba mencari sesuatu di dalam ranselnya yang mungkin dapat membatunya kini, seperti kamus atau sejenisnya.
Sialnya, ia tak mendapati sesuatu seperti itu di dalam sana. Sepertinya, ia tersesat, di tempat yang tak Ia ketahui pasti, dengan orang-orang yang tak mengetahui dirinya pula.

2
Menyadari gadis yang sedari tadi diamatinya tengah kebingungan dan membutuhkan bantuan, ia mencoba bertanya.
Bertanya dalam bahasa yang biasa digunakannya sehari-sehari yang rupanya tak dimengerti oleh orang yang ditanya.
Dengan bekal bahasa Inggris yang pas-pasan Ia coba bertanya kembali, berharap sang gadis dapat mengerti kata-katanya kini, namun sang gadis justru menanyainya kembali dengan bahasa Inggris yang berisi beberapa kosakata yang tak dimengerti.
Ia pun memutuskan untuk kembali menyetir dan sejenak membiarkan sang gadis, karena Ia takut tak dapat berkonsentrasi pada kemudinya.

3
Dari daratan yang nampak subur, di sebuah tempat pemberhentian kereta di daerah Cirebon, Jawa Tengah.
Seorang wanita berkucir kuda nampak sibuk membangunkan gadis disebelahnya yang tengah tertidur lelap. Sepertinya sang gadis begitu kelelahan hingga tak menyadari bahwa tiket keretanya belum diperiksa petugas untuk dilubangi -sebagai tanda sudah digunakan dan diperiksa-. Gadis yang ternyata berkacamata itu bangun dengan wajah sedikit terkejut. Tak lama kemudian, Ia menyerahkan tiketnya pada petugas pemeriksa tiket, serta berterimakasih pada wanita berkucir kuda.

4
Ia nampak kelelahan, mungkin karena semalaman tak dapat tidur. Hari ini, dalam perjalanannya menuju stasiun Pasar Senen untuk kembali ke kampus tercintanya di kota Bogor, ia benar-benar tertidur lelap di samping jendela. Tak seperti biasanya yang selalu dapat terjaga apabila disuguhkan pemandangan-pemandangan dari dalam kereta, ia justru tertidur.
Rupanya ada seorang wanita di sebelahnya yang sedari tadi berusaha membangunkannya agar tiketnya dapat diperiksa oleh petugas pemeriksa.
Dengan wajah terkejut -karena pikirnya Ia sedang ada ditempat yang tak diketahuinya tadi-, Ia pun segera memberikan tiket pada petugas dan berterimakasih pada wanita berkucir kuda yang telah membangunkannya dari tidur yang benar-benar tak disengaja.
Sambil beristighfar karena telah lalai, Ia kembali menikmati pemandangan dari balik jendela yang selalu Ia sukai.

"ternyata mimpi sampe ke Perancis, besok-besok kayanya harus dilanjut belajar bahasa Perancisnya. Biar ga nyasar kalau mimpi ke Perancis, atau kalau ke sana beneran."

Ditulis ala kadarnya dengan ponsel dalam perjalanan menggunakan kereta api Kertajaya
Pagi hari, 16 Juli 2016
Selamat Mudik (Balik, Lebaran) !

-Al-Biruni-

Senin, 06 Juni 2016

RKS aka Rumahku, Surgaku

RKS aka Rumahku, Surgaku

Bismillahirrahmanirrahim

Rumahku, Surgaku...

Rumah adalah tempat untuk pulang, bercerita tentang apa yang didapatkan di sepanjang perjalanan, serta satu-satunya tempat yang memperbolehkanmu untuk berpeluh sembari berbahagia dalam waktu bersamaan, pun tertawa dalam serentet keluh
Surga adalah tempat yang Allah janjikan bagi orang-orang mukmin
Apa jadinya jika kau merasakan keduanya dalam satu tempat secara bersamaan?

Di dalam rumah terdapat satu atau lebih sesuatu yang bermorfologis seperti dirimu, hanya mungkin memiliki cinta yang lebih, mereka adalah keluarga
Keluarga adalah sahabat terdekatmu di dalam sesuatu yang disebut rumah tadi
Dan sahabat menurut Rasulullah adalah orang-orang yang ketika kau bersamanya, Allah dan surganya terasa ada di depan mata

Rumahku, Surgaku...

Semoga rahmat-Nya selalu menaungi mereka semua...
Mereka, segelintir orang yang mengatakan "kamu bisa" saat orang-orang diluar sana justru membuat semakin dalam keterpurukan
Mereka, segelintir orang yang bisa menjadi yang paling keras suaranya namun tetap terdiam ketika diri sedang menangis dan mengeluh, hanya memastikan membuat diri ini nyaman bercerita dengan menjadi telinga
Mereka, segelintir orang yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan

Rumahku, Surgaku...

Entah sebanyak apa rindu yang kian memuncak kini
Presiden, Sekretaris Jendral, Bendahara Negara, Bunda, Bayi, Komdis, dan Penasihat Negara. Aneh mungkin, bagi sebagian orang dan mungkin (juga) bagimu yang sedang membaca ini. Namun inilah cara kami. Ya, di dalam sebuah rumah selalu ada pembagian tugas. Keluarga yang baik bukanlah keluarga yang dapat memaklumi saja, namun profesional

Rumahku, Surgaku...

Teringat waktu-waktu kita melingkar bersama. Rapat RKS, liqo RKS, dan lingkaran-lingkaran lainnya. Entah siapa yang memulainya, kita hanya ingin menjadi keluarga yang baik satu sama lain
Tak jarang ada yang "syahid" terlebih dahulu kemudian kembali bangkit
Pun saat pergi bersama, walau hanya sekadar berbaju dengan warna senada, ke studio foto, atau makan di luar
Pipiku semakin hangat sekarang, entahlah sudah semerah apa

Rumahku, Surgaku...

Jannatul Ma'wa, Jannatul Firdaus, Jannatul Khuld, dan nama surga lainnya dalam bentuk kaligrafi sederhana terpampang di depan pintu kamarnya. Harapan sederhana sang penghuni terselip dibalik namanya

Rumahku, Surgaku...

"Semoga ada hikmahnya kita mencar-mencar ya RKS, kita masih didalam buku yang sama kok, hanya kita sedang dalam babnya masing-masing, semuanya memiliki bahasan berbeda namun sama-sama memiliki satu tujuan (yaitu buku itu sendiri)" (Sekretaris Jendral RKS 2016).

"Mungkin Allah mengondisikan di lingkungan baru dan orang baru. Untuk mendewasakan kita, ibaratnya lagi berpetualang dan ketika pulang ke Rumahku Surgaku banyak cerita yang akan kita bagikan" (Komdis RKS 2016).

Rumahku, Surgaku...

Selamat menyinari bumi yang lain. Bayi (yang kini sudah dewasa) dengan keluarga kecil barunya, jadi istri shalihah ya, Nak. Komdis dengan hafalan-hafalan yang sudah menanti di depan mata, semoga istiqomah senantiasa melekat pada dirimu. Bunda yang akan segera menjadi kakak dengan begitu banyak adik di tempat yang baru. Penasihat Negara yang beralih tugas ke tempat yang lain. Presiden, Sekretaris Jedral, dan Bendahara Negara yang masih dijadikan satu namun di ranah yang lain, semoga rezimnya segera dapat diwujudkan ya

Rumahku, Surgaku...

Uhibbukum fillah...
Dari kanan atas ke kiri, dan kiri bawah ke kanan:
1. Irma Yulistiani
2. Salsabil Hanifah (Resdika)
3. Adinda Aisyah
4. Rizka Betri Wijayanti
5. Dewi Yulianti
6. Nur Humairoh Umi
7. Sarah Salsabila


Gadis berkacamata,

Al-Biruni

Rabu, 27 April 2016

TIK TOK

TIK TOK

kutitip sepucuk rindu

pada hujan yang baru saja berlinang

pada langit yang kian mengelam

pada hari yang makin mengusai


kutitip sepucuk rindu

pada jendela yang masih berdecit

pada atap yang tampak menganga

pada detik-detik yang telah lalu


kutitip sepucuk rindu

pada -Mu yang meruah di sukma

pada nya yang tengah berpeluh

pada nya, puisi terindah yang dari tadi minta aku pergi ke rumah sakit




Assalamu'alaikum...

Gini nih, kalau lagi sakit. Inget aja sama seseorang yang dipanggil "ibu". Parah ya? Iya parah emang, entah ini rahmat atau musibah, mungkin Ia hanya ingin mengingatkan, alhamdulillah

Masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan, ada agenda yang terpaksa dicancel karena ga dapet izin dari keluarga RKS. Ah, how a care! Hmm, it's ok. Entah ini rahmat atau musibah, mungkin Allah hanya ingin diri ini istirahat sejenak, alhamdulillah

Anyway, maaf itu tulisan yang di atas agak absvrd ya. Tapi beneran lagi kangen berat sama ibu, yasudahlah, toh sejenak tidak bertatap muka untuk melakukan (insyaAllah) sebuah kebaikan

Lama ga buka blog, lama ga ngunjungi juga yaa? Gapapa, selow. Gimana-gimana? Itu desain hasil belajar di pertemuan FLP Bogor ahad silam. Belum beres juga sih sebenernya, tapi gapapa. "Proses", remember? hehe *ngeles

Udahan yaa, jangan lupa jaga kesehatan, kebaikan harus beriringan dengan prosesnya yang baik pula. Oh iya, jangan lupa nelfon keluarga di rumah (buat yang LDRan, SAMA KELUARGA, bukan sama yang lain *ehups)


Lemme take off my glasses,
Al-Biruni

Selasa, 12 April 2016

di balik sebuah harap

di balik sebuah harap


Tuing
Tumben-tumbenan ya itu gambar di atas, hmm

Bismillah
Assalamu'alaikum...

Sehat?

Jadi, ceritanya pagi ini sebelum ujian, jajan dulu wkwk (anggap saja pengganti sarapan). Ada satu produk yang kayanya masuk kriteria untuk dimakan pagi ini. Nah, singkat cerita ternyata ada promo berhadiah gitu lewat hologram di dalem bungkusnya. Pas dibuka dua-duanya ternyata dapet PSP merk tersohor *eaa. Sebut saja s*ny.
Seneng dong? Iyalaah, pagi-pagi ga sengaja dapet ginian.
Ternyata klaimnya cuma berlaku sampe 29 Februari 2016.
Yaudah, belajar lagi buat ujian--'

Gitu doang?

Yaudahsi haha

Tapi alhamdulillah yaa tanda tangan di kartu ujian udah penuh (re: UTS telah usai).
Belum ada nilai yang keluar si, tapi mudah-mudahan sesuai ekspektasi. Harapannya sih gitu...

Nah loh, berharap

Boleh sih berharap, tapi yang bener ya :)

Kalau kata salah satu tokoh yang namanya begitu familiar ini sih:


Udah nih?

Iya udahin aja, maaf ya, makanya jangan berharap sama penulis blog ini *eh
Selamat selesai UTS, selamat libur sehari, jangan lupa tidur dan kerjakan laporan *oh iya yah*


Afwan jiddan,

Al-Biruni

Minggu, 10 April 2016

They call it, Process

They call it, Process

Hi!
Assalamu'alaikum...

Asa udah lama ya? hehe
Maaf untuk membiarkannya berdebu dan tertinggal sementara waktu tanpa alasan jelas

Hmm, honestly, ini sisa-sisa kuota. Kirain ga bakal bisa browsing pake Ashlan (re: my pc) hari ini. Husnudzon saja, rezeki.
Antara kebangun atau ga bisa tidur, gara-gara sendirian atau ga enak badan. Tumben, sendirian di RKS. Presiden, Bendahara Negara, Penasihat Negara, sama Bayi pulang. Bunda ke Lembang. Komdis ke saudaranya, katanya sih kondangan. Yasudahlah, mau bagaimana lagi wkwk.

Tetiba kangen sama blog ini. Seseorang di tempat melingkarnya orang-orang yang suka nulis bilang gini, "kalau punya blog jangan sering di tinggal, nanti berhantu."
Waduh, udah berapa koloni ya di sini? haha

Hmm...

They call it, Process

Entahlah, hari ini banyak terpikir kata "proses". Setumpuk orang-orang yang sadar pun ga sadar pernah cerita indahnya ujung sebuah proses juga banyak muncul di kepala. Terbang-terbang gitu *eh.
Ada lagi orang-orang yang rasanya masih di fase proses juga ikut-ikutan muncul.

"Aku sampai mana ya(?)"

They call it, Process

Sedikit baca sebuah buku hari ini, kebetulan pake pembatas yang belum pernah dipake. Ada sebaris kalimat di sana,

"Life does not put things in front of you that you're unable to handle."

They call it, Process

Kalau kata guru SD dulu, "belajar itu yang penting proses, bukan hasil."
Agak kecewa sama paradigma yang terlanjur menjamur di masyarakat, bahkan mungkin diri sendiri sih. Pada akhirnya, yang dibilang "bernilai" itu hasil. Ah, entahlah. Orang-orang di sekeliling kita pasti orang-orang terbaik yang sudah Allah pilihkan, kan?

They call it, Process

Hari ini nelfon adik-adik. Sesi curhat ceritanya, sama konsultasi tugas(?) wkwk
Hmm, seorang kakak juga ternyata banyak prosesnya ya. Sosok adik cenderung melihat siapa kakaknya dibanding orang tuanya, sadar ga sadar, itu yang si penulis blog ini dapet dari sebuah lembaga pendidikan pencetak guru Qur'an di Bogor. Antara mencontoh, atau memberontak. Jadi teladan lewat sikap, itu solusi terbaik sebenarnya. Tapi sembari membuatnya dekat. Dekat, untuk jarak yang jauh(?)

They call it, Process

Bahkan seorang sahabat. Kalau bukan karena proses yang namanya pertemuan, entah apa mereka disebut.

They call it, Process

Adanya kita sekarang, bukannya itu proses juga(?)

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati..." (QS. Al-Mu'minun: 12-15)

They call it, Process

Aku teringat sekuntum senja
Penuh aroma kasturi
Tersaji setelah terik
Penghantar lelap
Pembangun suka
Meski beralas duri
Nan menembus ulu hati
Hingga terbekas luka
Ia tetap pantas dirindu

They call it, Process


Untuk seorang teman yang kerap dibersamai beberapa waktu silam, terimakasih atas undangan pernikahannya. Maaf tidak bisa hadir. Terimakasih untuk tetap mengingat orang ini, bagaimanapun ia, terimakasih untuk ketersediaan memasukkannya ke daftar "teman".
Untuk teman yang lain, yang insyaAllah akan berkegiatan serupa. Terimakasih, entah untuk apa, rasanya terlampau banyak jika dijabarkan.
Seseorang yang lagi rajin-rajinnya nanya-nanya karena mau ke luar negeri, Semangat! Jangan lupa oleh-oleh *eh
Hati-hati yang lagi di Spanyol. Jangan terbang tinggi-tinggi dulu. Adikmu ini lagi susah payah pengen nyusul. Hmm
Semangat yang masih Ujian Tengah Semester. Semoga ilmunya Allah Berkahkan. Tetap berusaha menikmati proses ya, hmm.
Kalian (pun mungkin penulis ini), yang sedang Allah uji dengan amanahnya, tetap Semangat! Seterong! Allah loves us, more than we know. Remember?
Selamat (sepertiga) malam.

Rindu terselimut dinding putih,
Al-Biruni

Kamis, 28 Januari 2016

what's the matter?

what's the matter?

Assalamu'alaikum...

Boleh kan bikin coret-coretan lagi?
Hmm, Allahumma shayyiban naafi'an. Alhamdulillah, Tegal lagi hujan nih. Barusan nitip salam buat beberapa orang yang lagi butuh aku di sampingnya lewat dia sih, semoga dia (re: hujan) tak lupa menyampaikan.

what's the matter?

Anyway, ada apa ya? Kok nulis lagi? Ya itu dia, justru itu, "what's the matter?"
Actually, there's something bad that make me feel guilty, fool, blablabla. But, it's ok, gwencana kalau kata orang Korea.

what's the matter?

Oh iya, beberapa hari yang lalu baru beresin sebuah lagu, project bareng yang belum sempet dirampungin. Sebagian liriknya (versi aku yaa) gini:

Muslimah, pancarkan pesonamu
Muslimah, pancarkan cahaya hatimu
Na na na na na na na 3x
Hari-harimu slalu dipenuhi dengan cerita baru
Senyum bahagia slalu menghiasi indah harimu
Tapi ternyata tak ada yang berbeda
Dirimu juga hambaNya pula
Tak lepas dari cobaan dan tantangan
Reff: Muslimah, pancarkan pesonamu oh
Muslimah, pancarkan cahaya hatimu
Muslimah, jadikan Allah satu-satunya tempat berlindungmu, tempat bergantungmu
Tetap tegar
Jadilah berdikari
...

Nyanyi sendiri aja yaa, tebak-tebak aja chord dkknya.
Itu lirik "kebikin" pas lagi nguatin diri kayanya haha.

what's the matter?

Apa masalahnya? Nah, itu dia. Terkadang kayanya kita salah deh memandang kalau suatu hal itu adalah masalah. Karena sebenernya masalahnya tuh ya latar belakang si masalah tadi. Dan mungkin masalah utamanya ada di belakangnya lagi. Atau semakin di belakangnya. Terus emang kenapa kalau itu masalah?
Hmm, bukannya udah jelas firman Allah satu ini:

"Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan sesuai kesanggupannya." (Al-Baqarah: 286)

Nah, itu alasannya ada masalah. Dan lagi pula:

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Al-Insyirah: 5-6)

what's the matter?

Allah selalu punya maksud tertentu -sengaja ga bilang 'terkadang' di sini-. Mungkin Allah mau kebangkitan kita nantinya lebih abadi, sehingga tidak menyegerakan. Atau sesuatu yang menurutNya lebih baik dari itu.

so, what's the matter?

Pict 1. He's Matter. McQueen's friend, hehe (Film "Cars")

Aku ingat kisah gelas plastik. Kau mengingatnya? Seseorang yang menyerupakan hati yang tersakiti dengan gelas yang terbanting. Katanya, "ia tak dapat kembali seperti semula". Benarkah? Seketika lawan bicaranya hanya mengatakan "ini gelas plastik".
Ya, aku tak bermaksud me'lucu', memang~
Sudahlah, masih banyak hutang. Thank's for being there, guys :)


Hareudang,

-Al-Biruni-

Rabu, 27 Januari 2016

rain in somewhere

rain in somewhere

Assalamu'alaikum...

Yeah, finally, bisa touch down sama blog ini lagi. Alhamdulillah, sekarang posisi lagi di Tegal, Jawa Tengah. Kota kelahiran dengan sejuta keramahan.
Last Monday, baru pulang dari Singapore, kota yang selalu nampak hidup dengan jutaan lampu beraneka warnanya. Mau share dikit nih.

Kayanya gaperlu ditanya juga kenapa si penulis blog ini berangkat ke dua negara yang punya cukup pengaruh besar di ASEAN dan -mungkin- dunia itu, Malaysia dan Singapore. Intinya ada event yang "menarik diri" untuk berangkat.
Berawal dari resolusi "bikin paspor" dan "keluar negeri" yang dibikin tanggal 1 Januari 2016. Alhamdulillah, biidznillah, Allah izinkan, and I get so many experience because of it.

Malaysia, negeri yang bener-bener "sekandungan" kayanya sama Indonesia, idk exactly. Yeah, kasarnya "kaya lihat sebagian Indonesia yang telah maju kalau ke Malaysia".
Oh iya, gaperlu repot-repot ngomong pake bahasa Inggris kok kalau ke sini, asal maksudnya jelas aja hehe.
Shubuhnya jam 06.06. Dan jam 08.00 baru ada aktivitas masyarakat sana, yaa mirip-mirip 06.30 di Indonesia lah.
Alhamdulillah, seneng banget disambut sama Menteri Pariwisata Malaysia (maaf Tuk, saya lupa namanya siapa hehe) dan jajarannya. Bahkan gala dinner bareng, hmm humble sekali beliau.
Pertama sampai sana dapet suasana India banget di KL Sentral. Ya, memang ada Little India di sana. Banyak keturunan India juga di daerah hotel, KL Sentral. Seharian sibuk sama agenda, alhamdulillah. Dateng-dateng langsung welcome party sama market research ke 3 lokasi, KL Sentral, Petronas, sama China Town. Yang bikin greget jadwal keretanya sih, alamat harus naik taksi kalau sampai ketinggalan kereta. Hmm, cukup menguras tenaga dan hati *eh*. Haha serius, kamu ga akan tahan harus ninggalin parade air mancur di bawah Twin Tower Petronas cepet-cepet. Hiks *pukpuk diri sendiri*.
Sebenernya ga terlalu banyak jalan-jalan di negara ini, tapi sempet mampir ke Cyberjaya. Muter-muter di kantor Malaysian Global Innovation and Creativity, ikut symposium di sana, makan sama sempet ngerasain sholat di sana juga, alhamdulillah. Habis itu ke Malaysian Tourism Center, nonton pertunjukkan tari dan nyanyian asli Malaysia. Ini yang bikin salut, ada tempat yang khusus disediakan buat foreign mengenal lebih tentang Malaysia, jadi orang asing ga perlu bingung harus berkunjung kemana buat mengenal kebudayaan daerah. Malemnya gala dinner, terus jalan-jalan sendiri (sama beberapa pengangguran sih *eh* haha) ke China Town. Dan besok paginya langsung melaju ke Singapore.

Singapore, bukan negara yang susah ditempuh dari Malaysia. Kalau naik bis yaa mirip-mirip Jakarta-Bandung lah. Bedanya, harus ngelewatin imigrasi.
Kalau buat negara yang satu ini, entahlah, ini bener-bener kerasa luar negerinya hehe. Mulai dari orang-orangnya, ketertibannya, lampu-lampu, bangunan, jalanan, sampai air mineralnya yang harganya SGD 3 per-botol (coba aja kalikan 9700 --'). Haha, cultural shock, seriously.
Hmm, dapet hotel bintang 5 di negara satu ini, sayang banget cuma semalem.
Pas baru dateng disambut sama orang-orang kedutaan besar Indonesia di Singapore, ada symposium disana bareng leader-leader luar biasa.
Sempet ke landmarknya juga, apalagi kalau bukan Merlion Stone. Sisanya jalan-jalan sendiri (bareng sama pasukan FMIPA "boleh" sih, hehe). Seharian main pake MRT, kartu STP. Ke Bugis, Marina Bay (Merlion Stone), National University of Singapore, Sentosa Island (Universal Studio sama Palawan Beach), terus Marina Bay lagi buat ke Garden Bay the By, balik ke Bugis, baru ke Changi.
Beautiful experiencenya itu pas nginep di Changi Airport, tidur di sofa KFC haha (alhamdulillah pegawainya baik), sholat di sembarang tempat karena ga ada mushola di sana (there's prayer room, but in boarding room and it isn't just for Muslim).

Alhamdulillah, sempet lihat hujan di dua negara itu juga. Tidak se-syahdu di negara sendiri sih. But, it just feel special. Hmm

Gambar 1. Hujan di Kuala Lumpur, Malaysia

Gambar 2. Hujan di Marina Bay, Singapore

Perjalanan, banyak hal yang dapat dipetik atasnya, Karena perjalanan pula lah yang membuat kita lebih merindu rumah, kan?

Hoam, sleep tight, anyway :)



Perubahan(?)

-Al-Biruni-

SPRINKLE

What can I do in life


Find your dream

Design more

Catch it

Being beneficial

Look around

Try to love

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia

Phone number

+(62) 857 1363 9668