• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

just an ordinary muslimah with extraordinary dreams

a pluviophile, she loves rain like a pen

It's Me haha

Deepak Bhagya

personal info

rizka betri wijayanti

Birthday: 15 JAN 1996
E-mail: betri.rizka@gmail.com

read

Know more about me


LIFESHOOT

  • 1996-now

    SIBLINGS

    Generasi pertama dari BETRI bersaudara. Adiknya, Haifa Mutiara Betri Nabila (Bila) dan Fathia Betri Nurul Fadila (Tia)

ACTIVITIES

  • 2015-2016

    BEM FMIPA IPB

    Bendahara Departemen Propaganda dan Kaderisasi, BEM FMIPA 2016 Kabinet Sirius

  • 2015-now

    Forum Lingkar Pena Bogor

    Anggota muda Forum Lingkar Pena Bogor angkatan 8

  • 2014-2018 (expected)

    Bogor Agricultural University

    Mahasiswi Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Stories

Al-Biruni's


Selasa, 20 Maret 2018

HIJRAH #1 (Rangkap Dua yang Tak Disengaja)

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah, akhirnya bisa sedikit share lagi di situs ini setelah sekian lama hibernasi panjang hehe. Suka gitu emang. Apa kabar? Semoga hari ini terlewati dengan penuh rasa syukur ya. Aamiin.

Hari ini insyaAllah serial serpihan langkah hijrah penulis akan dimulai, semoga bisa melengkapi langkah-langkah menuju Allah baik bagi pembaca pun penulis sendiri. Kalau ada yang sekiranya ingin didiskusikan bisa hubungi kontak yang tertera saja ya.

Rangkap Dua yang Tak Disengaja

Berbicara tentang hijrah, sebagian besar orang biasanya langsung memusatkan perhatian pada sesuatu bernama jilbab, hijab, kerudung, atau apapun itu yang menutupi kepala seorang wanita muslimah. Hari ini pakai istilah jilbab dulu saja ya, walaupun yang dibahas nanti kerudung pashmina yang dibuat ala hijabers, kerudung segiempat, dan sebagainya hehe.

Penulis sendiri sudah mengenal jilbab dari kecil. Alhamdulillah di kalangan keluarga besar (dari ayah) sendiri sudah ada beberapa yang menggunakan jilbab (kalau dipikir-pikir, dulu jilbab ini bisa dikategorikan barang langka loh), meskipun ibu dari penulis sendiri belum mengenakan jilbab saat itu.

Mengenal jilbab dari kecil, tapi belum merasa perlu mengenakan jilbab saat itu. Entahlah. Sempat dibesarkan di sebuah tempat bernama Majalaya di daerah Bandung, penulis kecil bahkan mengenyam pendidikan taman kanak-kanak di sebuah TK “Islam”. Tapi, hanya guru-gurunya yang mengenakan jilbab. Bingung? Ya, sama. Tapi penulis kecil yang bawaan dari lahirnya hobi bertanya ini pun belum penasaran detik itu.

Setahun mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak, penulis yang berusia 5 tahun pindah ke Tegal, Jawa Tengah untuk meneruskan pendidikan di sekolah negeri (dari sekolah dasar hingga sekolah menengah). Tidak apa-apa walau harus sesekali berpisah dengan ayah dan ibu (keduanya bekerja di Majalaya, berani kan aku? hehe). Penulis kecil menghabiskan kebanyakan tahun-tahun berikutnya bersama mbah uti (nenek – ibu dari ayah) dan dua bulik (tante – satu adik ayah, satu adik ipar ayah) di Tegal. Dari sini penulis banyak didengarkan lagu-lagu nasyid (waktu itu, awal tahun 2000an, Senada dan Raihan sedang naik daun naik daunnya). Tak jarang juga penulis mendengarkan sepupu-sepupu (anak dari bulik) yang bersekolah di sekolah Islam terpadu sedang hafalan Al-Qur’an pun Hadist.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, hanya ada satu orang teman penulis yang mengenakan jilbab. Itu pun baju dan roknya sama panjangnya dengan teman-teman lain. Penulis berkesempatan ikut lomba cerdas cermat agama Islam tingkat Kota Tegal waktu itu, entah dianggap sedikit shalihah atau dianggap mudah mengerti apa yang diajarkan. Penulis baru memutuskan untuk menggunakan jilbab saat sekolah menengah pertama. Alasannya? Penulis yang bertugas sebagai sekretaris kelas saat kelas 6 pernah terjatuh dari bangku saat menulis di papan dengan kapur. Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan rok berpanjang selutut itu. Sederhana, tapi ini mungkin awal mulanya. Ini belum hijrah ya, penampilan saat ke halaman rumah nyatanya masih tak jauh berbeda dari sebelumnya hehe. Eits, tapi di sekolah menengah pertama ini alhamdulillah berkesempatan mengikuti ekstrakurikuler tilawatil qur’an (belum banyak sekolah yang memiliki kegiatan rohis saat itu, di Tegal), dan hampir lolos MTQ tingkat Kota (baru ditelfon guru, kabur ke Majalaya, gamau ikut hehe).

Penulis pun masuk ke sekolah menengah atas. Alhamdulillah jilbabnya sudah makin jadi identitas (keluar rumah dikit, pakai). Di sini juga berkesempatan ikut ekstrakulikuler rohis (saat itu namanya irmush (ikatan remaja mushola)) di samping menjadi aktivis pramuka. Sekolah penulis yang dianggap menjadi pusat trend fashionnya para remaja putri Tegal saat itu (ini serius haha) pun pelan-pelan menjalarkan trend fashion tentang jilbab. Apa ya yang pertama terkenal itu? Ah! Jilbab paris. Harganya 5 ribuan dulu kalau tak salah. Banyak remaja putri saat itu memilih jilbab jenis ini karena diklaim tidak gerah jika digunakan meskipun super tipis (selama peraturan sekolah mengizinkan). Meski ketipisannya ini akhirnya banyak membuat beberapa teman mau menggunakan jilbab (mudah-mudahkan sekarang semakin istiqomah). Disusul ciput (inner jilbab) berbahan kaos yang nempel ke jidat (bukan ciput topi), dan tak lupa bandana beraneka warna pun rupa yang kerap dikombinasikan dengan ciput. Super alay, tapi ya begitu masanya haha.

Malu nulisnya, tapi penulis pun dulu begitu. Paling parah diantara yang lain, mungkin. Setiap hari selalu ada warna atau model yang berbeda, terkadang jilbab yang bertahtakan bordiran jamur warna merah berdiameter 3 senti disepanjang tepinya, ciput two-tone warna kontras yang kedua sisinya digunakan sekaligus (haha), hingga bandana dengan bunga-bunga timbul lebih dari dua yang dimunculkan sebagai hiasan ciput. Tak jarang penulis ditegur BK (maafkan aku, Bu. Hehe) karena menggunakan warna-warna mencolok yang benar-benar tak senada dengan seragam sekolah.

Ada sesosok guru BK, yang kepada beliau, penulis benar-benar ucapkan terima kasih, semoga Allah SWT senantiasa merahmati beliau. Jilbab yang digunakan memang sudah panjang (cukup panjang bagi remaja dengan tinggi 160 cm dan berat badan 40sekian hehe), namun terlalu tipis. Hingga terkadang memicu Ibu ini untuk menegur penulis, “maasyaAllah, cantik sekali anak didik kebanggaan ibu satu ini jilbabnya ada bordir-bordir merahnya. Tapi, pasti akan lebih cantik kalau jilbabnya tidak menampakkan rambut panjangnya.” Entah sudah berapa kali beliau mengatakan hal semacam itu. Mungkin lebih dari 7(?), sungguh.

Suatu peristiwa yang mengguncangkan batin pun terjadi. Entah ini rahmat atau musibah, hanya mecoba berprasangka baik pada Allah SWT. Ayah meninggal. Waktu itu Minggu, 15 Januari 2012 (tepat penulis berulangtahun yang ke-16, saat itu masih duduk di tingkat kedua sekolah menengah atas). Beliau sudah tak sadarkan diri sejak hari Jumat sebelumnya. Saat itu (Jumat, 13 Januari 2012), kali pertama penulis melihat ibu (kandung) yang sudah menggunakan jilbab (untuk waktu yang lama, tak hanya saat perjalanan jauh saja). Rupanya, alm. ayah sempat mengatakan sesuatu saat hari Rabu (11 Januari 2012) pada ibu, “Ibu cantik. Pasti ibu makin cantik kalau pakai jilbab kaya Mba Rizka”. Allah, Sutradara Terbaik. Semoga ibu istiqomah.

Tidak lama setelah itu, adik pertama penulis lulus dari sekolah dasar dan masuk ke sekolah menengah pertama. Jilbab yang tengah berkembang dan mulai banyak orang mengenakan itu pun menjadi penampilan baru dari adik penulis. MaasyaAllah. Kalau kata seseorang,

“Da’wah itu seperti kamu mencoba suatu makanan yang benar-benar enak. Karena begitu enaknya, kamu menjadi ingin orang lain merasakan apa yang kamu rasakan agar sama-sama merasa senang telah mencoba makanan yang benar-benar enak.”

Sejatinya bukan “kamu” yang berjasa karena telah membuat makanan itu dikagumi banyak orang. Makanan itu dikagumi oleh banyak orang hingga bahkan laris manis karena sang peracik yang sudah membuat resep dengan begitu sempurnanya.

Lanjut ya hehe. Penulis pun lulus dari sekolah menengah atas tahun 2013 dan mencoba segala upaya terbaik (yang ahsan ya hehe) untuk masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Alhamdulillah diterima di beberapa perguruan tinggi (ga perlu disebut sepertinya, karena ga satupun di ambil). Sekali lagi, entah ini rahmat atau musibah. Karena kalau diambil, mungkin (mungkin, karena Allah Yang Maha Tau, bukan?) penulis yang kalian tahu sekarang tidak akan seperti ini.

Memutuskan untuk menunda kuliah selama satu tahun. Penulis yang berdomisili di Tegal pun berpindah ke Bogor, kebetulan ada banyak kerabat dekat di kota hujan satu ini. Dengan izin Allah, rasanya banyak sekali sentuhan hidayah yang penulis rasakan di tempat ini, di setiap jengkal kotanya.

Di kota ini, penulis tinggal dengan bulik yang dulu (saat duduk di bangku sekolah dasar) turut menghabiskan waktu untuk merawat penulis bersama mbah uti, semoga rahmat Allah SWT senantiasa menyertai langkah beliau. Beliau memiliki 5 orang anak (anak laki-laki sulungnya sudah berpulang ke rahmatullah tak lama setelah ayah). Anak perempuan pertamanya (anak ke-2) yang saat itu berusia 15 tahun bersekolah di sebuah sekolah islam terpadu. Lama sekali penulis tak berjumpa dengan gadis cantik ini. Dulu saat kecil, dia hobi sekali melempar-lempar barang dan berteriak-teriak jika kesal. MaasyaAllah, dia tumbuh menjadi remaja yang benar-benar menjaga diri (meskipun dia merasa dirinya biasa saja).

Dia lebih memilih berjalan kaki dari depan perumahannya ke rumah yang jaraknya beberapa kilometer saat pulang sekolah (dari sekolah menengah pertama) dibanding naik ojeg, bukan karena tidak punya uang apalagi menghemat uang jajan, “bukan muhrim” katanya kala itu polos. Susah payah belajar naik motor dengan menggunakan rok berlapis hanya untuk mengupayakan agar auratnya terjaga dari mata yang tak berhak. Meluangkan waktu sejenak lebih dulu dibanding beberapa orang lainnya sesaat sebelum bepergian hanya untuk merangkap dua jilbab paris warna-warni kesukaannya. Yap! Kami sama-sama pengguna jilbab paris (kala itu). Bedanya, penulis pakai 1, dia pakai 2 bahkan 3.

Hingga suatu ketika, kami ingin pergi bersama ke suatu tempat hanya untuk mencoba kedai zuppa soup yang belum lama buka. Beberapa menit sebelum pergi, seperti biasa sepupu penulis ini melipat dua jilbabnya untuk digunakan nanti. Entah apa yang dipikirkan oleh penulis kala itu (yang alhamdulillah penulis syukuri sekali hingga detik ini), penulis meminta sang sepupu mengajarkan cara merangkap dua jilbab paris. Dua jilbab paris polos berwarna merah muda.

Hari itu, adalah hari pertama penulis tau caranya merangkap jilbab (meski belum serapi dan secepat kini), hari yang penulis yakini bahwa Allah sudah siapkan segala sesuatunya dengan baik (mohon doa agar senantiasa istiqomah). Terima kasih, seseorang yang telah mengajarkannya, semoga hidayah Allah selalu atasmu, dan rahmat Allah senantiasa melingkupi langkah-langkahmu.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33:59)

Wallahu a'lam bishshowab...




Semoga Allah senantiasa membelai lembut hati-hati kita.
Salam dari 20 Maret 2018 di kota hujan,

-Al-Biruni-

Sabtu, 16 Juli 2016

Selamat Mudik (Balik, Lebaran)

1
Petang itu di sebuah bis yang sedang melaju di bumi kota kecil bagian negara Perancis, tampak seorang gadis yang tengah kebingungan.
Penutup kepala yang ia kenakan menyimpulkan bahwa dirinya memeluk kepercayaan yang tak banyak dapat diterima orang-orang di sekelilingnya, kala itu, di tempat itu.

2
Seorang wanita paruh baya yang berbadan setengah gemuk nampak tengah mengamati gadis yang duduk tak jauh darinya.
Sembari mengemudikan kendaraan besar yang menjadi kebanggaannya -karena kendaraan ini adalah satu-satunya kendaraan umum yang diperbolehkan masuk ke wilayah tersebut- ia terus memperhatikan sang gadis. Penampilannya berbeda, sangat berbeda dari gadis-gadis yang ia temui biasanya. Sepertinya, memang dia bukan orang sini.

1
Terdengar sebuah suara tengah memanggil-manggil dirinya, "excuze moi?", "pardon moi?"
Gadis itu menengok ke arah datangnya suara yang ternyata dari sang juru kemudi.
Dengan berbekal bahasa Perancis yang tak banyak, bahkan sangat sedikit dan bahasa Inggris yang sudah jarang ia gunakan, gadis itu pun memberanikan diri menyaut sang juru kemudi yang rupanya wanita.
Benar dugaannya, wanita tersebut berbicara menggunakan bahasa yang benar-benar tak dimengerti, meski sudah belajar 3 tahun di bangku SMA dulu -hanya 2 jam, dalam seminggu-.
Lagi, wanita tersebut mencoba berbicara dengan bahasa yang berbeda, bahasa Inggris!
Namun, bahasa Inggris yang terdengar dalam logat Perancis dan sangat pas-pasan itu makin membuatnya tak mengerti.
Ia mencoba bertanya apa maksud dari wanita tersebut, mungkin ia berkata tentang cara memberhentikan bus yang dikemudikannya kini, atau bertanya kemana tujuan sang gadis, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun yang ia dapati tetaplah sesuatu yang sama, bingung.
Sang gadis mencoba mencari sesuatu di dalam ranselnya yang mungkin dapat membatunya kini, seperti kamus atau sejenisnya.
Sialnya, ia tak mendapati sesuatu seperti itu di dalam sana. Sepertinya, ia tersesat, di tempat yang tak Ia ketahui pasti, dengan orang-orang yang tak mengetahui dirinya pula.

2
Menyadari gadis yang sedari tadi diamatinya tengah kebingungan dan membutuhkan bantuan, ia mencoba bertanya.
Bertanya dalam bahasa yang biasa digunakannya sehari-sehari yang rupanya tak dimengerti oleh orang yang ditanya.
Dengan bekal bahasa Inggris yang pas-pasan Ia coba bertanya kembali, berharap sang gadis dapat mengerti kata-katanya kini, namun sang gadis justru menanyainya kembali dengan bahasa Inggris yang berisi beberapa kosakata yang tak dimengerti.
Ia pun memutuskan untuk kembali menyetir dan sejenak membiarkan sang gadis, karena Ia takut tak dapat berkonsentrasi pada kemudinya.

3
Dari daratan yang nampak subur, di sebuah tempat pemberhentian kereta di daerah Cirebon, Jawa Tengah.
Seorang wanita berkucir kuda nampak sibuk membangunkan gadis disebelahnya yang tengah tertidur lelap. Sepertinya sang gadis begitu kelelahan hingga tak menyadari bahwa tiket keretanya belum diperiksa petugas untuk dilubangi -sebagai tanda sudah digunakan dan diperiksa-. Gadis yang ternyata berkacamata itu bangun dengan wajah sedikit terkejut. Tak lama kemudian, Ia menyerahkan tiketnya pada petugas pemeriksa tiket, serta berterimakasih pada wanita berkucir kuda.

4
Ia nampak kelelahan, mungkin karena semalaman tak dapat tidur. Hari ini, dalam perjalanannya menuju stasiun Pasar Senen untuk kembali ke kampus tercintanya di kota Bogor, ia benar-benar tertidur lelap di samping jendela. Tak seperti biasanya yang selalu dapat terjaga apabila disuguhkan pemandangan-pemandangan dari dalam kereta, ia justru tertidur.
Rupanya ada seorang wanita di sebelahnya yang sedari tadi berusaha membangunkannya agar tiketnya dapat diperiksa oleh petugas pemeriksa.
Dengan wajah terkejut -karena pikirnya Ia sedang ada ditempat yang tak diketahuinya tadi-, Ia pun segera memberikan tiket pada petugas dan berterimakasih pada wanita berkucir kuda yang telah membangunkannya dari tidur yang benar-benar tak disengaja.
Sambil beristighfar karena telah lalai, Ia kembali menikmati pemandangan dari balik jendela yang selalu Ia sukai.

"ternyata mimpi sampe ke Perancis, besok-besok kayanya harus dilanjut belajar bahasa Perancisnya. Biar ga nyasar kalau mimpi ke Perancis, atau kalau ke sana beneran."

Ditulis ala kadarnya dengan ponsel dalam perjalanan menggunakan kereta api Kertajaya
Pagi hari, 16 Juli 2016
Selamat Mudik (Balik, Lebaran) !

-Al-Biruni-

Senin, 06 Juni 2016

RKS aka Rumahku, Surgaku

Bismillahirrahmanirrahim

Rumahku, Surgaku...

Rumah adalah tempat untuk pulang, bercerita tentang apa yang didapatkan di sepanjang perjalanan, serta satu-satunya tempat yang memperbolehkanmu untuk berpeluh sembari berbahagia dalam waktu bersamaan, pun tertawa dalam serentet keluh
Surga adalah tempat yang Allah janjikan bagi orang-orang mukmin
Apa jadinya jika kau merasakan keduanya dalam satu tempat secara bersamaan?

Di dalam rumah terdapat satu atau lebih sesuatu yang bermorfologis seperti dirimu, hanya mungkin memiliki cinta yang lebih, mereka adalah keluarga
Keluarga adalah sahabat terdekatmu di dalam sesuatu yang disebut rumah tadi
Dan sahabat menurut Rasulullah adalah orang-orang yang ketika kau bersamanya, Allah dan surganya terasa ada di depan mata

Rumahku, Surgaku...

Semoga rahmat-Nya selalu menaungi mereka semua...
Mereka, segelintir orang yang mengatakan "kamu bisa" saat orang-orang diluar sana justru membuat semakin dalam keterpurukan
Mereka, segelintir orang yang bisa menjadi yang paling keras suaranya namun tetap terdiam ketika diri sedang menangis dan mengeluh, hanya memastikan membuat diri ini nyaman bercerita dengan menjadi telinga
Mereka, segelintir orang yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan

Rumahku, Surgaku...

Entah sebanyak apa rindu yang kian memuncak kini
Presiden, Sekretaris Jendral, Bendahara Negara, Bunda, Bayi, Komdis, dan Penasihat Negara. Aneh mungkin, bagi sebagian orang dan mungkin (juga) bagimu yang sedang membaca ini. Namun inilah cara kami. Ya, di dalam sebuah rumah selalu ada pembagian tugas. Keluarga yang baik bukanlah keluarga yang dapat memaklumi saja, namun profesional

Rumahku, Surgaku...

Teringat waktu-waktu kita melingkar bersama. Rapat RKS, liqo RKS, dan lingkaran-lingkaran lainnya. Entah siapa yang memulainya, kita hanya ingin menjadi keluarga yang baik satu sama lain
Tak jarang ada yang "syahid" terlebih dahulu kemudian kembali bangkit
Pun saat pergi bersama, walau hanya sekadar berbaju dengan warna senada, ke studio foto, atau makan di luar
Pipiku semakin hangat sekarang, entahlah sudah semerah apa

Rumahku, Surgaku...

Jannatul Ma'wa, Jannatul Firdaus, Jannatul Khuld, dan nama surga lainnya dalam bentuk kaligrafi sederhana terpampang di depan pintu kamarnya. Harapan sederhana sang penghuni terselip dibalik namanya

Rumahku, Surgaku...

"Semoga ada hikmahnya kita mencar-mencar ya RKS, kita masih didalam buku yang sama kok, hanya kita sedang dalam babnya masing-masing, semuanya memiliki bahasan berbeda namun sama-sama memiliki satu tujuan (yaitu buku itu sendiri)" (Sekretaris Jendral RKS 2016).

"Mungkin Allah mengondisikan di lingkungan baru dan orang baru. Untuk mendewasakan kita, ibaratnya lagi berpetualang dan ketika pulang ke Rumahku Surgaku banyak cerita yang akan kita bagikan" (Komdis RKS 2016).

Rumahku, Surgaku...

Selamat menyinari bumi yang lain. Bayi (yang kini sudah dewasa) dengan keluarga kecil barunya, jadi istri shalihah ya, Nak. Komdis dengan hafalan-hafalan yang sudah menanti di depan mata, semoga istiqomah senantiasa melekat pada dirimu. Bunda yang akan segera menjadi kakak dengan begitu banyak adik di tempat yang baru. Penasihat Negara yang beralih tugas ke tempat yang lain. Presiden, Sekretaris Jedral, dan Bendahara Negara yang masih dijadikan satu namun di ranah yang lain, semoga rezimnya segera dapat diwujudkan ya

Rumahku, Surgaku...

Uhibbukum fillah...
Dari kanan atas ke kiri, dan kiri bawah ke kanan:
1. Irma Yulistiani
2. Salsabil Hanifah (Resdika)
3. Adinda Aisyah
4. Rizka Betri Wijayanti
5. Dewi Yulianti
6. Nur Humairoh Umi
7. Sarah Salsabila


Gadis berkacamata,

Al-Biruni

Rabu, 27 April 2016

TIK TOK

kutitip sepucuk rindu

pada hujan yang baru saja berlinang

pada langit yang kian mengelam

pada hari yang makin mengusai


kutitip sepucuk rindu

pada jendela yang masih berdecit

pada atap yang tampak menganga

pada detik-detik yang telah lalu


kutitip sepucuk rindu

pada -Mu yang meruah di sukma

pada nya yang tengah berpeluh

pada nya, puisi terindah yang dari tadi minta aku pergi ke rumah sakit




Assalamu'alaikum...

Gini nih, kalau lagi sakit. Inget aja sama seseorang yang dipanggil "ibu". Parah ya? Iya parah emang, entah ini rahmat atau musibah, mungkin Ia hanya ingin mengingatkan, alhamdulillah

Masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan, ada agenda yang terpaksa dicancel karena ga dapet izin dari keluarga RKS. Ah, how a care! Hmm, it's ok. Entah ini rahmat atau musibah, mungkin Allah hanya ingin diri ini istirahat sejenak, alhamdulillah

Anyway, maaf itu tulisan yang di atas agak absvrd ya. Tapi beneran lagi kangen berat sama ibu, yasudahlah, toh sejenak tidak bertatap muka untuk melakukan (insyaAllah) sebuah kebaikan

Lama ga buka blog, lama ga ngunjungi juga yaa? Gapapa, selow. Gimana-gimana? Itu desain hasil belajar di pertemuan FLP Bogor ahad silam. Belum beres juga sih sebenernya, tapi gapapa. "Proses", remember? hehe *ngeles

Udahan yaa, jangan lupa jaga kesehatan, kebaikan harus beriringan dengan prosesnya yang baik pula. Oh iya, jangan lupa nelfon keluarga di rumah (buat yang LDRan, SAMA KELUARGA, bukan sama yang lain *ehups)


Lemme take off my glasses,
Al-Biruni

Selasa, 12 April 2016

di balik sebuah harap


Tuing
Tumben-tumbenan ya itu gambar di atas, hmm

Bismillah
Assalamu'alaikum...

Sehat?

Jadi, ceritanya pagi ini sebelum ujian, jajan dulu wkwk (anggap saja pengganti sarapan). Ada satu produk yang kayanya masuk kriteria untuk dimakan pagi ini. Nah, singkat cerita ternyata ada promo berhadiah gitu lewat hologram di dalem bungkusnya. Pas dibuka dua-duanya ternyata dapet PSP merk tersohor *eaa. Sebut saja s*ny.
Seneng dong? Iyalaah, pagi-pagi ga sengaja dapet ginian.
Ternyata klaimnya cuma berlaku sampe 29 Februari 2016.
Yaudah, belajar lagi buat ujian--'

Gitu doang?

Yaudahsi haha

Tapi alhamdulillah yaa tanda tangan di kartu ujian udah penuh (re: UTS telah usai).
Belum ada nilai yang keluar si, tapi mudah-mudahan sesuai ekspektasi. Harapannya sih gitu...

Nah loh, berharap

Boleh sih berharap, tapi yang bener ya :)

Kalau kata salah satu tokoh yang namanya begitu familiar ini sih:


Udah nih?

Iya udahin aja, maaf ya, makanya jangan berharap sama penulis blog ini *eh
Selamat selesai UTS, selamat libur sehari, jangan lupa tidur dan kerjakan laporan *oh iya yah*


Afwan jiddan,

Al-Biruni

Minggu, 10 April 2016

They call it, Process

Hi!
Assalamu'alaikum...

Asa udah lama ya? hehe
Maaf untuk membiarkannya berdebu dan tertinggal sementara waktu tanpa alasan jelas

Hmm, honestly, ini sisa-sisa kuota. Kirain ga bakal bisa browsing pake Ashlan (re: my pc) hari ini. Husnudzon saja, rezeki.
Antara kebangun atau ga bisa tidur, gara-gara sendirian atau ga enak badan. Tumben, sendirian di RKS. Presiden, Bendahara Negara, Penasihat Negara, sama Bayi pulang. Bunda ke Lembang. Komdis ke saudaranya, katanya sih kondangan. Yasudahlah, mau bagaimana lagi wkwk.

Tetiba kangen sama blog ini. Seseorang di tempat melingkarnya orang-orang yang suka nulis bilang gini, "kalau punya blog jangan sering di tinggal, nanti berhantu."
Waduh, udah berapa koloni ya di sini? haha

Hmm...

They call it, Process

Entahlah, hari ini banyak terpikir kata "proses". Setumpuk orang-orang yang sadar pun ga sadar pernah cerita indahnya ujung sebuah proses juga banyak muncul di kepala. Terbang-terbang gitu *eh.
Ada lagi orang-orang yang rasanya masih di fase proses juga ikut-ikutan muncul.

"Aku sampai mana ya(?)"

They call it, Process

Sedikit baca sebuah buku hari ini, kebetulan pake pembatas yang belum pernah dipake. Ada sebaris kalimat di sana,

"Life does not put things in front of you that you're unable to handle."

They call it, Process

Kalau kata guru SD dulu, "belajar itu yang penting proses, bukan hasil."
Agak kecewa sama paradigma yang terlanjur menjamur di masyarakat, bahkan mungkin diri sendiri sih. Pada akhirnya, yang dibilang "bernilai" itu hasil. Ah, entahlah. Orang-orang di sekeliling kita pasti orang-orang terbaik yang sudah Allah pilihkan, kan?

They call it, Process

Hari ini nelfon adik-adik. Sesi curhat ceritanya, sama konsultasi tugas(?) wkwk
Hmm, seorang kakak juga ternyata banyak prosesnya ya. Sosok adik cenderung melihat siapa kakaknya dibanding orang tuanya, sadar ga sadar, itu yang si penulis blog ini dapet dari sebuah lembaga pendidikan pencetak guru Qur'an di Bogor. Antara mencontoh, atau memberontak. Jadi teladan lewat sikap, itu solusi terbaik sebenarnya. Tapi sembari membuatnya dekat. Dekat, untuk jarak yang jauh(?)

They call it, Process

Bahkan seorang sahabat. Kalau bukan karena proses yang namanya pertemuan, entah apa mereka disebut.

They call it, Process

Adanya kita sekarang, bukannya itu proses juga(?)

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati..." (QS. Al-Mu'minun: 12-15)

They call it, Process

Aku teringat sekuntum senja
Penuh aroma kasturi
Tersaji setelah terik
Penghantar lelap
Pembangun suka
Meski beralas duri
Nan menembus ulu hati
Hingga terbekas luka
Ia tetap pantas dirindu

They call it, Process


Untuk seorang teman yang kerap dibersamai beberapa waktu silam, terimakasih atas undangan pernikahannya. Maaf tidak bisa hadir. Terimakasih untuk tetap mengingat orang ini, bagaimanapun ia, terimakasih untuk ketersediaan memasukkannya ke daftar "teman".
Untuk teman yang lain, yang insyaAllah akan berkegiatan serupa. Terimakasih, entah untuk apa, rasanya terlampau banyak jika dijabarkan.
Seseorang yang lagi rajin-rajinnya nanya-nanya karena mau ke luar negeri, Semangat! Jangan lupa oleh-oleh *eh
Hati-hati yang lagi di Spanyol. Jangan terbang tinggi-tinggi dulu. Adikmu ini lagi susah payah pengen nyusul. Hmm
Semangat yang masih Ujian Tengah Semester. Semoga ilmunya Allah Berkahkan. Tetap berusaha menikmati proses ya, hmm.
Kalian (pun mungkin penulis ini), yang sedang Allah uji dengan amanahnya, tetap Semangat! Seterong! Allah loves us, more than we know. Remember?
Selamat (sepertiga) malam.

Rindu terselimut dinding putih,
Al-Biruni

Kamis, 28 Januari 2016

what's the matter?

Assalamu'alaikum...

Boleh kan bikin coret-coretan lagi?
Hmm, Allahumma shayyiban naafi'an. Alhamdulillah, Tegal lagi hujan nih. Barusan nitip salam buat beberapa orang yang lagi butuh aku di sampingnya lewat dia sih, semoga dia (re: hujan) tak lupa menyampaikan.

what's the matter?

Anyway, ada apa ya? Kok nulis lagi? Ya itu dia, justru itu, "what's the matter?"
Actually, there's something bad that make me feel guilty, fool, blablabla. But, it's ok, gwencana kalau kata orang Korea.

what's the matter?

Oh iya, beberapa hari yang lalu baru beresin sebuah lagu, project bareng yang belum sempet dirampungin. Sebagian liriknya (versi aku yaa) gini:

Muslimah, pancarkan pesonamu
Muslimah, pancarkan cahaya hatimu
Na na na na na na na 3x
Hari-harimu slalu dipenuhi dengan cerita baru
Senyum bahagia slalu menghiasi indah harimu
Tapi ternyata tak ada yang berbeda
Dirimu juga hambaNya pula
Tak lepas dari cobaan dan tantangan
Reff: Muslimah, pancarkan pesonamu oh
Muslimah, pancarkan cahaya hatimu
Muslimah, jadikan Allah satu-satunya tempat berlindungmu, tempat bergantungmu
Tetap tegar
Jadilah berdikari
...

Nyanyi sendiri aja yaa, tebak-tebak aja chord dkknya.
Itu lirik "kebikin" pas lagi nguatin diri kayanya haha.

what's the matter?

Apa masalahnya? Nah, itu dia. Terkadang kayanya kita salah deh memandang kalau suatu hal itu adalah masalah. Karena sebenernya masalahnya tuh ya latar belakang si masalah tadi. Dan mungkin masalah utamanya ada di belakangnya lagi. Atau semakin di belakangnya. Terus emang kenapa kalau itu masalah?
Hmm, bukannya udah jelas firman Allah satu ini:

"Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan sesuai kesanggupannya." (Al-Baqarah: 286)

Nah, itu alasannya ada masalah. Dan lagi pula:

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Al-Insyirah: 5-6)

what's the matter?

Allah selalu punya maksud tertentu -sengaja ga bilang 'terkadang' di sini-. Mungkin Allah mau kebangkitan kita nantinya lebih abadi, sehingga tidak menyegerakan. Atau sesuatu yang menurutNya lebih baik dari itu.

so, what's the matter?

Pict 1. He's Matter. McQueen's friend, hehe (Film "Cars")

Aku ingat kisah gelas plastik. Kau mengingatnya? Seseorang yang menyerupakan hati yang tersakiti dengan gelas yang terbanting. Katanya, "ia tak dapat kembali seperti semula". Benarkah? Seketika lawan bicaranya hanya mengatakan "ini gelas plastik".
Ya, aku tak bermaksud me'lucu', memang~
Sudahlah, masih banyak hutang. Thank's for being there, guys :)


Hareudang,

-Al-Biruni-

SPRINKLE

What can I do in life


Find your dream

Design more

Catch it

Being beneficial

Look around

Try to love

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia

Phone number

+(62) 857 1363 9668