• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

just an ordinary muslimah with extraordinary dreams

a pluviophile, she loves rain like a pen

It's Me haha

Deepak Bhagya

personal info

rizka betri wijayanti

Birthday: 15 JAN 1996
E-mail: betri.rizka@gmail.com

read

Know more about me


LIFESHOOT

  • 1996-now

    SIBLINGS

    Generasi pertama dari BETRI bersaudara. Adiknya, Haifa Mutiara Betri Nabila (Bila) dan Fathia Betri Nurul Fadila (Tia)

ACTIVITIES

  • 2015-2016

    BEM FMIPA IPB

    Bendahara Departemen Propaganda dan Kaderisasi, BEM FMIPA 2016 Kabinet Sirius

  • 2015-now

    Forum Lingkar Pena Bogor

    Anggota muda Forum Lingkar Pena Bogor angkatan 8

  • 2014-2018 (expected)

    Bogor Agricultural University

    Mahasiswi Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Stories

Al-Biruni's


Jumat, 18 Desember 2015

terimakasih

terimakasih

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Aku baru saja kembali dari tempat yang amat kubenci namun terpaksa harus kukenali baik (Rumah Sakit) beberapa puluh menit silam. Ada sesuatu yang harus kucari di setumpuk berkas yang rasanya sudah terlalu usang untuk kembali kubuka. Berderet-deret map nampak berwarna-warni menghiasi tumpukan itu, memberi rasa yang mampu menghilangkan sedikit kebosananku.

Di tengah pencarian, aku menemukan sebuah amplop yang nampak tebal (setidaknya ada lebih dari selembar kertas di dalam sana, menurutku). Yang membuat heran adalah amplop tersebut belum pernah dibuka. Dengan rasa penasaran yang kian memuncak, aku pun membuka amplop itu, amplop putih yang bertuliskan namaku di atasnya. Rizka, itu saja.

Ku temukan tiga lembar kertas hvs berukuran A4 di dalamnya, dua berisi penuh hasil Ms. Word dan satu lampiran berisi foto-foto yang entah kapan sang penulis (surat) ambil. Ah, rupanya kamu.

Kebiasaan, tanpa nama. Hmm...

Terharu...

Tak kusangka, masih kau ingat betul perjumpaan pertama kita. Lorong dan kelas yang senantiasa mempertemukan kita. Tentang tempat makan saat pertama kita makan bersama, bahkan menu yang kupesan. Tentang cerita pertama yang kuceritakan padamu. Tentang teman-teman hebatku yang menghiasi setiap ceritaku. Tentang baju yang aku sukai. Tentang amanah yang kita emban bersama beserta lika-likunya. Kau mengingatnya dengan sangat baik? Kau pasti genius!

Aku menghela napas sejenak, rasanya berat. Maafkan aku, untuk baru menyadarinya. Maafkan untuk diri yang tak memperhatikanmu sebanyak kau memperhatikanku.

Seketika aku melintas pada sebuah masa, masa dimana kau menjadi salah satu pelaku di dalamnya. Ya, dalam memoriku. Teringat, akan kisah yang berulang-ulang kau ceritakan. Aku menyukainya. Aku mengingatnya, hadiah-hadiah itu! Hadiah yang kerap kau letakkan di dalam kamar asramaku, 136. Dengan sticky note handalan yang begitu menarik minat. "Tadi aku ke al-Amin. Terus aku lihat ini. Terus aku inget kamu", di atas nissin wafer rasa pisang. Dua pisang yang tiba-tiba ada di atas meja. Dan semuanya hanya bertanda "you know me so well". Ah, aku kalah! Kau ingat betul apa makanan kesukaanku tanpa pernah memberi tahuku (barang sekelumit clue pun) apa makanan kesukaanmu. Yes, I know who you are, so well, but not as much as you know me.

Apa kabar, saudariku yang tak pernah letih menjadi telinga untukku? Aku bahkan tak pantas menerima apapun yang kau tuliskan dalam suratmu. Tapi, terimakasih, untuk menulis, dan untuk semua yang berada di dalam tulisan itu.

Semoga pertemuan-pertemuan kita senantiasa berlanjut hingga kelak Ia berkenan mempertemukan kita di syurga-Nya. Aamiin.

Tetap sehat seperti dirimu, dan melangkahlah selalu ke arah yang lebih baik.

Cause you don't know how thankful I am got to meet you.


Merindu,
Al-Biruni

Senin, 14 Desember 2015

secarik kertas untuk saudariku

secarik kertas untuk saudariku

untukmu, yang terbekali cahaya syurga dari-Nya...

bagaimana kabar hari? bagaimana kabar hati?

semoga ia senantiasa memenjarakan iman dan islam di dalamnya

penjara yang dipenuhi aroma-aroma dan cahaya-cahaya dari taman syurga


apa yang kiranya kerap menghabiskan masamu belakangan ini?

apapun itu, semoga Ia meridhoinya

dengan ridho yang dipenuhi cinta

cinta yang senantiasa tergenapi dan dapat menggenapi


ada sesuatu yang kian menarik perhatianku

sesuatu yang semakin bersinar setiap harinya

lantas menuai variasi rona di sepanjang masanya

sesuatu itu, semakin berharga


teruntuk calon penghuni syurga yang dirindukan Pencipta

tetaplah belajar

belajar di setiap waktu, jarak, meski sepersekian detik, pun senti

belajar untuk sesuatu yang mempertinggi derajat


untukmu, uhibbuki fillah...


Saudarimu yang berterimakasih,
-Al-Biruni-


memaknai cinta

memaknai cinta

Bismillahirrahmanirrahiim...

CINTA

Kerap kali lima rangkaian huruf ini menyita perhatian hingga seseorang lupa bahwa dirinya telah menghabiskan begitu banyak waktu karenanya.
Entah seperti apa bentuk cinta yang merupakan fitrah yang niscaya ada pada diri setiap makhluk itu. Yang jelas, ada kehangatan tersendiri tatkala ia telah menyambangi.
Ah, kau tak akan pernah usai membahasnya, percaya padaku.

Memaknai Cinta

Hari ini, ada tambahan wawasan yang diri dapat dari perjalanan ke Sukabumi. Sejurus kemudian, diri ini memutuskan untuk membingkainya dalam sesuatu nan terkenal dengan sebutan cinta yang tengah menjadi buah bibir dari zaman ke zaman.

Memaknai Cinta

Hmm...seorang putri memutuskan untuk berubah ke arah lebih baik setelah ayahandanya sakit dan berpesan, "Ayah khawatir jika yang kamu kerjakan di luaran sana tidak seperti apa yang kamu ceritakan pada Ayah di rumah, karena kamu adalah tanggung jawab Ayah".

Memaknai Cinta

Ya, CINTA. Apalagi namanya jika bukan itu. Cinta seorang putri kepada sang Ayah, putri Ayah ini rupanya baru memahami dan berusaha memaknai rasa yang sang Ayah jalarkan hingga dapat diterjemahkan menjadi rangkaian lima huruf penuh arti yang tengah dibahas silam.

Memaknai Cinta

Lain lagi dengan seseorang yang pernah terlibat dalam suatu perjodohan padahal tengah menjalin komitmen dalam hubungan yang entah apa namanya dengan seseorang yang lain. Ah, ada 3 orang. Tentu ini bukanlah hal menyenangkan yang mudah diterima dengan begitu saja oleh insan manapun (agak lebay? ok, but I think it still true). Namun, pada akhirnya orang tersebut menerima perjodohannya dengan lapang dada, bukan, maksudku sangat lapang dada. Rupanya orang tersebut pun turut memaknai lima huruf nan dipenuhi warna tadi setelah menempuh cara-Nya.

Memaknai Cinta

Begitu banyak akan hal ini yang kudapat dari perjalanan kali ini. Sukabumi, bukanlah kota yang dekat dan lengang di sepanjang perjalanannya. Tentulah banyak kisah yang terlontar dari segala penjuru kendaraan yang membawa lebih kurang 50 mahasiswa sebuah institusi negeri yang dikenal karena sesuatu bernama divisi organik, anorganik, analitik, dan fisik.

Jika diibaratkan, cinta bagaikan sebuah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya. Sesuatu dapat membiaskannya. Lurus, belok, maupun berliuk-liuk adalah hasil dari bagaimana cahaya dari sumber cahaya itu dibiaskan. Ya, jika ada Cinta, tentulah ada yang Maha dalam kepemilikan atasnya.
Ada sebuah ungkapan, "pelajarilah agamamu, maka kau akan tahu bagaimana caranya mencintai sesuatu".

Memaknai Cinta

Mari saling belajar untuk memaknainya, bersyukur atasnya terhadap-Nya. Semailah selalu agar senantiasa dapat dituai, meski dengan berbagai variasi rona.

Memaknai Cinta

Hmm...masih ada haru yang bertengger di dinding-dinding hati. Barakallah teteh, Dania Nurlitasari, Kimia 49. Semoga bahagia hingga ke syurga-Nya. Aamiin.
Mau share gambar lucu aja hari ini. Sembari kita doakan karboksilat tersebut agar segera dapat memaknai cinta dengan sebagaimana mestinya.

Memaknai Cinta

P.S.: berjalanlah, dan kau akan mengetahui sesuatu.


Uhibbukum fillah,
-Al-Biruni-

Jumat, 11 Desember 2015

mari membumi

mari membumi


Bismillahirrahmanirrahim

It's been a long day, right?

Hmm...apa kabar? What? Kok ini jadi kaya smsan *skip*

Anyway, hujan...
Alhamdulillah
Allahumma shayyiban naafi'an

Ada sesuatu yang diri ini pelajari dari hujan. Sebenarnya bukan hari ini -namun sudah jauh-jauh hari sebelum akhirnya memutuskan untuk menjuluki(?) diri sebagai pluviophile- mempelajarinya.

Ya, hujan
Hujan mengajarkan bahwa setinggi langit manapun kita detik ini, akan ada saatnya kita harus turun membumi. Bukan hanya sekadar membumi, namun membumi serta menebar kebermanfaatan atasnya. Apa maksudnya?

Nah, seperti halnya hujan. Ia dapat membumi di bagian belahan bumi manapun, hal ini merupakan keniscayaan yang tak diketahuinya. Meski begitu, hujan senantiasa menebar kebermanfaatan. Mengeluarkan potensi terbaiknya untuk mengairi sesuatu yang perlu dijadikannya penuh akan air, menyirami suatu makhluk bernama tanaman yang membutuhkan asupan berupa unsur bernama lain H2O untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup.

Ah, tak cukup waktu pun kata kiranya mengungkit berpundi-pundi kebermanfaatan dari fenomena yang pastinya bukan diluar ketidaksengajaan Sang Pencipta Alam ini.

Lantas, membumi seperti apakah yang sepatutnya kita lakukan? Kau tahu yang terbaik, Kawan. Maksimalkanlah apa yang bisa dan mestinya dilakukan.

Sedikit dulu ya, there's something that i've to do, hope it still beneficial
Sudah al-ma'tsurat petang? #dailyreminder


Merindu-Nya,
-Al-Biruni-

SPRINKLE

What can I do in life


Find your dream

Design more

Catch it

Being beneficial

Look around

Try to love

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia

Phone number

+(62) 857 1363 9668