• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

just an ordinary muslimah with extraordinary dreams

a pluviophile, she loves rain like a pen

It's Me haha

Deepak Bhagya

personal info

rizka betri wijayanti

Birthday: 15 JAN 1996
E-mail: betri.rizka@gmail.com

read

Know more about me


LIFESHOOT

  • 1996-now

    SIBLINGS

    Generasi pertama dari BETRI bersaudara. Adiknya, Haifa Mutiara Betri Nabila (Bila) dan Fathia Betri Nurul Fadila (Tia)

ACTIVITIES

  • 2015-2016

    BEM FMIPA IPB

    Bendahara Departemen Propaganda dan Kaderisasi, BEM FMIPA 2016 Kabinet Sirius

  • 2015-now

    Forum Lingkar Pena Bogor

    Anggota muda Forum Lingkar Pena Bogor angkatan 8

  • 2014-2018 (expected)

    Bogor Agricultural University

    Mahasiswi Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

Stories

Al-Biruni's


Selasa, 20 Maret 2018

HIJRAH #1 (Rangkap Dua yang Tak Disengaja)

HIJRAH #1 (Rangkap Dua yang Tak Disengaja)

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah, akhirnya bisa sedikit share lagi di situs ini setelah sekian lama hibernasi panjang hehe. Suka gitu emang. Apa kabar? Semoga hari ini terlewati dengan penuh rasa syukur ya. Aamiin.

Hari ini insyaAllah serial serpihan langkah hijrah penulis akan dimulai, semoga bisa melengkapi langkah-langkah menuju Allah baik bagi pembaca pun penulis sendiri. Kalau ada yang sekiranya ingin didiskusikan bisa hubungi kontak yang tertera saja ya.

Rangkap Dua yang Tak Disengaja

Berbicara tentang hijrah, sebagian besar orang biasanya langsung memusatkan perhatian pada sesuatu bernama jilbab, hijab, kerudung, atau apapun itu yang menutupi kepala seorang wanita muslimah. Hari ini pakai istilah jilbab dulu saja ya, walaupun yang dibahas nanti kerudung pashmina yang dibuat ala hijabers, kerudung segiempat, dan sebagainya hehe.

Penulis sendiri sudah mengenal jilbab dari kecil. Alhamdulillah di kalangan keluarga besar (dari ayah) sendiri sudah ada beberapa yang menggunakan jilbab (kalau dipikir-pikir, dulu jilbab ini bisa dikategorikan barang langka loh), meskipun ibu dari penulis sendiri belum mengenakan jilbab saat itu.

Mengenal jilbab dari kecil, tapi belum merasa perlu mengenakan jilbab saat itu. Entahlah. Sempat dibesarkan di sebuah tempat bernama Majalaya di daerah Bandung, penulis kecil bahkan mengenyam pendidikan taman kanak-kanak di sebuah TK “Islam”. Tapi, hanya guru-gurunya yang mengenakan jilbab. Bingung? Ya, sama. Tapi penulis kecil yang bawaan dari lahirnya hobi bertanya ini pun belum penasaran detik itu.

Setahun mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak, penulis yang berusia 5 tahun pindah ke Tegal, Jawa Tengah untuk meneruskan pendidikan di sekolah negeri (dari sekolah dasar hingga sekolah menengah). Tidak apa-apa walau harus sesekali berpisah dengan ayah dan ibu (keduanya bekerja di Majalaya, berani kan aku? hehe). Penulis kecil menghabiskan kebanyakan tahun-tahun berikutnya bersama mbah uti (nenek – ibu dari ayah) dan dua bulik (tante – satu adik ayah, satu adik ipar ayah) di Tegal. Dari sini penulis banyak didengarkan lagu-lagu nasyid (waktu itu, awal tahun 2000an, Senada dan Raihan sedang naik daun naik daunnya). Tak jarang juga penulis mendengarkan sepupu-sepupu (anak dari bulik) yang bersekolah di sekolah Islam terpadu sedang hafalan Al-Qur’an pun Hadist.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, hanya ada satu orang teman penulis yang mengenakan jilbab. Itu pun baju dan roknya sama panjangnya dengan teman-teman lain. Penulis berkesempatan ikut lomba cerdas cermat agama Islam tingkat Kota Tegal waktu itu, entah dianggap sedikit shalihah atau dianggap mudah mengerti apa yang diajarkan. Penulis baru memutuskan untuk menggunakan jilbab saat sekolah menengah pertama. Alasannya? Penulis yang bertugas sebagai sekretaris kelas saat kelas 6 pernah terjatuh dari bangku saat menulis di papan dengan kapur. Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan rok berpanjang selutut itu. Sederhana, tapi ini mungkin awal mulanya. Ini belum hijrah ya, penampilan saat ke halaman rumah nyatanya masih tak jauh berbeda dari sebelumnya hehe. Eits, tapi di sekolah menengah pertama ini alhamdulillah berkesempatan mengikuti ekstrakurikuler tilawatil qur’an (belum banyak sekolah yang memiliki kegiatan rohis saat itu, di Tegal), dan hampir lolos MTQ tingkat Kota (baru ditelfon guru, kabur ke Majalaya, gamau ikut hehe).

Penulis pun masuk ke sekolah menengah atas. Alhamdulillah jilbabnya sudah makin jadi identitas (keluar rumah dikit, pakai). Di sini juga berkesempatan ikut ekstrakulikuler rohis (saat itu namanya irmush (ikatan remaja mushola)) di samping menjadi aktivis pramuka. Sekolah penulis yang dianggap menjadi pusat trend fashionnya para remaja putri Tegal saat itu (ini serius haha) pun pelan-pelan menjalarkan trend fashion tentang jilbab. Apa ya yang pertama terkenal itu? Ah! Jilbab paris. Harganya 5 ribuan dulu kalau tak salah. Banyak remaja putri saat itu memilih jilbab jenis ini karena diklaim tidak gerah jika digunakan meskipun super tipis (selama peraturan sekolah mengizinkan). Meski ketipisannya ini akhirnya banyak membuat beberapa teman mau menggunakan jilbab (mudah-mudahkan sekarang semakin istiqomah). Disusul ciput (inner jilbab) berbahan kaos yang nempel ke jidat (bukan ciput topi), dan tak lupa bandana beraneka warna pun rupa yang kerap dikombinasikan dengan ciput. Super alay, tapi ya begitu masanya haha.

Malu nulisnya, tapi penulis pun dulu begitu. Paling parah diantara yang lain, mungkin. Setiap hari selalu ada warna atau model yang berbeda, terkadang jilbab yang bertahtakan bordiran jamur warna merah berdiameter 3 senti disepanjang tepinya, ciput two-tone warna kontras yang kedua sisinya digunakan sekaligus (haha), hingga bandana dengan bunga-bunga timbul lebih dari dua yang dimunculkan sebagai hiasan ciput. Tak jarang penulis ditegur BK (maafkan aku, Bu. Hehe) karena menggunakan warna-warna mencolok yang benar-benar tak senada dengan seragam sekolah.

Ada sesosok guru BK, yang kepada beliau, penulis benar-benar ucapkan terima kasih, semoga Allah SWT senantiasa merahmati beliau. Jilbab yang digunakan memang sudah panjang (cukup panjang bagi remaja dengan tinggi 160 cm dan berat badan 40sekian hehe), namun terlalu tipis. Hingga terkadang memicu Ibu ini untuk menegur penulis, “maasyaAllah, cantik sekali anak didik kebanggaan ibu satu ini jilbabnya ada bordir-bordir merahnya. Tapi, pasti akan lebih cantik kalau jilbabnya tidak menampakkan rambut panjangnya.” Entah sudah berapa kali beliau mengatakan hal semacam itu. Mungkin lebih dari 7(?), sungguh.

Suatu peristiwa yang mengguncangkan batin pun terjadi. Entah ini rahmat atau musibah, hanya mecoba berprasangka baik pada Allah SWT. Ayah meninggal. Waktu itu Minggu, 15 Januari 2012 (tepat penulis berulangtahun yang ke-16, saat itu masih duduk di tingkat kedua sekolah menengah atas). Beliau sudah tak sadarkan diri sejak hari Jumat sebelumnya. Saat itu (Jumat, 13 Januari 2012), kali pertama penulis melihat ibu (kandung) yang sudah menggunakan jilbab (untuk waktu yang lama, tak hanya saat perjalanan jauh saja). Rupanya, alm. ayah sempat mengatakan sesuatu saat hari Rabu (11 Januari 2012) pada ibu, “Ibu cantik. Pasti ibu makin cantik kalau pakai jilbab kaya Mba Rizka”. Allah, Sutradara Terbaik. Semoga ibu istiqomah.

Tidak lama setelah itu, adik pertama penulis lulus dari sekolah dasar dan masuk ke sekolah menengah pertama. Jilbab yang tengah berkembang dan mulai banyak orang mengenakan itu pun menjadi penampilan baru dari adik penulis. MaasyaAllah. Kalau kata seseorang,

“Da’wah itu seperti kamu mencoba suatu makanan yang benar-benar enak. Karena begitu enaknya, kamu menjadi ingin orang lain merasakan apa yang kamu rasakan agar sama-sama merasa senang telah mencoba makanan yang benar-benar enak.”

Sejatinya bukan “kamu” yang berjasa karena telah membuat makanan itu dikagumi banyak orang. Makanan itu dikagumi oleh banyak orang hingga bahkan laris manis karena sang peracik yang sudah membuat resep dengan begitu sempurnanya.

Lanjut ya hehe. Penulis pun lulus dari sekolah menengah atas tahun 2013 dan mencoba segala upaya terbaik (yang ahsan ya hehe) untuk masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Alhamdulillah diterima di beberapa perguruan tinggi (ga perlu disebut sepertinya, karena ga satupun di ambil). Sekali lagi, entah ini rahmat atau musibah. Karena kalau diambil, mungkin (mungkin, karena Allah Yang Maha Tau, bukan?) penulis yang kalian tahu sekarang tidak akan seperti ini.

Memutuskan untuk menunda kuliah selama satu tahun. Penulis yang berdomisili di Tegal pun berpindah ke Bogor, kebetulan ada banyak kerabat dekat di kota hujan satu ini. Dengan izin Allah, rasanya banyak sekali sentuhan hidayah yang penulis rasakan di tempat ini, di setiap jengkal kotanya.

Di kota ini, penulis tinggal dengan bulik yang dulu (saat duduk di bangku sekolah dasar) turut menghabiskan waktu untuk merawat penulis bersama mbah uti, semoga rahmat Allah SWT senantiasa menyertai langkah beliau. Beliau memiliki 5 orang anak (anak laki-laki sulungnya sudah berpulang ke rahmatullah tak lama setelah ayah). Anak perempuan pertamanya (anak ke-2) yang saat itu berusia 15 tahun bersekolah di sebuah sekolah islam terpadu. Lama sekali penulis tak berjumpa dengan gadis cantik ini. Dulu saat kecil, dia hobi sekali melempar-lempar barang dan berteriak-teriak jika kesal. MaasyaAllah, dia tumbuh menjadi remaja yang benar-benar menjaga diri (meskipun dia merasa dirinya biasa saja).

Dia lebih memilih berjalan kaki dari depan perumahannya ke rumah yang jaraknya beberapa kilometer saat pulang sekolah (dari sekolah menengah pertama) dibanding naik ojeg, bukan karena tidak punya uang apalagi menghemat uang jajan, “bukan muhrim” katanya kala itu polos. Susah payah belajar naik motor dengan menggunakan rok berlapis hanya untuk mengupayakan agar auratnya terjaga dari mata yang tak berhak. Meluangkan waktu sejenak lebih dulu dibanding beberapa orang lainnya sesaat sebelum bepergian hanya untuk merangkap dua jilbab paris warna-warni kesukaannya. Yap! Kami sama-sama pengguna jilbab paris (kala itu). Bedanya, penulis pakai 1, dia pakai 2 bahkan 3.

Hingga suatu ketika, kami ingin pergi bersama ke suatu tempat hanya untuk mencoba kedai zuppa soup yang belum lama buka. Beberapa menit sebelum pergi, seperti biasa sepupu penulis ini melipat dua jilbabnya untuk digunakan nanti. Entah apa yang dipikirkan oleh penulis kala itu (yang alhamdulillah penulis syukuri sekali hingga detik ini), penulis meminta sang sepupu mengajarkan cara merangkap dua jilbab paris. Dua jilbab paris polos berwarna merah muda.

Hari itu, adalah hari pertama penulis tau caranya merangkap jilbab (meski belum serapi dan secepat kini), hari yang penulis yakini bahwa Allah sudah siapkan segala sesuatunya dengan baik (mohon doa agar senantiasa istiqomah). Terima kasih, seseorang yang telah mengajarkannya, semoga hidayah Allah selalu atasmu, dan rahmat Allah senantiasa melingkupi langkah-langkahmu.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33:59)

Wallahu a'lam bishshowab...




Semoga Allah senantiasa membelai lembut hati-hati kita.
Salam dari 20 Maret 2018 di kota hujan,

-Al-Biruni-

SPRINKLE

What can I do in life


Find your dream

Design more

Catch it

Being beneficial

Look around

Try to love

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia

Phone number

+(62) 857 1363 9668