HIJRAH #1 (Rangkap Dua yang Tak Disengaja)
Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulillah,
akhirnya bisa sedikit share lagi di situs ini setelah sekian lama hibernasi
panjang hehe. Suka gitu emang. Apa kabar? Semoga hari ini terlewati dengan
penuh rasa syukur ya. Aamiin.
Hari ini insyaAllah serial serpihan langkah hijrah penulis akan dimulai,
semoga bisa melengkapi langkah-langkah menuju Allah baik bagi pembaca pun
penulis sendiri. Kalau ada yang sekiranya ingin didiskusikan bisa hubungi
kontak yang tertera saja ya.
Rangkap Dua yang Tak
Disengaja
Berbicara tentang hijrah, sebagian besar
orang biasanya langsung memusatkan perhatian pada sesuatu bernama jilbab,
hijab, kerudung, atau apapun itu yang menutupi kepala seorang wanita muslimah.
Hari ini pakai istilah jilbab dulu saja ya, walaupun yang dibahas nanti
kerudung pashmina yang dibuat ala hijabers, kerudung segiempat, dan sebagainya
hehe.
Penulis sendiri sudah mengenal jilbab
dari kecil. Alhamdulillah di kalangan
keluarga besar (dari ayah) sendiri sudah ada beberapa yang menggunakan jilbab
(kalau dipikir-pikir, dulu jilbab ini bisa dikategorikan barang langka loh),
meskipun ibu dari penulis sendiri belum mengenakan jilbab saat itu.
Mengenal jilbab dari kecil, tapi belum
merasa perlu mengenakan jilbab saat itu. Entahlah. Sempat dibesarkan di sebuah tempat
bernama Majalaya di daerah Bandung, penulis kecil bahkan mengenyam pendidikan
taman kanak-kanak di sebuah TK “Islam”. Tapi, hanya guru-gurunya yang
mengenakan jilbab. Bingung? Ya, sama. Tapi penulis kecil yang bawaan dari
lahirnya hobi bertanya ini pun belum penasaran detik itu.
Setahun mengenyam pendidikan di taman
kanak-kanak, penulis yang berusia 5 tahun pindah ke Tegal, Jawa Tengah untuk
meneruskan pendidikan di sekolah negeri (dari sekolah dasar hingga sekolah
menengah). Tidak apa-apa walau harus sesekali berpisah dengan ayah dan ibu (keduanya
bekerja di Majalaya, berani kan aku?
hehe). Penulis kecil menghabiskan kebanyakan tahun-tahun berikutnya bersama
mbah uti (nenek – ibu dari ayah) dan
dua bulik (tante – satu adik ayah,
satu adik ipar ayah) di Tegal. Dari sini penulis banyak didengarkan lagu-lagu
nasyid (waktu itu, awal tahun 2000an, Senada dan Raihan sedang naik daun naik
daunnya). Tak jarang juga penulis mendengarkan sepupu-sepupu (anak dari bulik) yang
bersekolah di sekolah Islam terpadu sedang hafalan Al-Qur’an pun Hadist.
Saat duduk di bangku sekolah dasar,
hanya ada satu orang teman penulis yang mengenakan jilbab. Itu pun baju dan
roknya sama panjangnya dengan teman-teman lain. Penulis berkesempatan ikut
lomba cerdas cermat agama Islam tingkat Kota Tegal waktu itu, entah dianggap
sedikit shalihah atau dianggap mudah mengerti apa yang diajarkan. Penulis baru
memutuskan untuk menggunakan jilbab saat sekolah menengah pertama. Alasannya?
Penulis yang bertugas sebagai sekretaris kelas saat kelas 6 pernah terjatuh
dari bangku saat menulis di papan dengan kapur. Bisa dibayangkan apa yang
terjadi dengan rok berpanjang selutut itu. Sederhana, tapi ini mungkin awal
mulanya. Ini belum hijrah ya, penampilan saat ke halaman rumah nyatanya masih
tak jauh berbeda dari sebelumnya hehe. Eits, tapi di sekolah menengah pertama
ini alhamdulillah berkesempatan
mengikuti ekstrakurikuler tilawatil qur’an (belum banyak sekolah yang memiliki
kegiatan rohis saat itu, di Tegal), dan hampir lolos MTQ tingkat Kota (baru
ditelfon guru, kabur ke Majalaya, gamau ikut hehe).
Penulis pun masuk ke sekolah menengah atas.
Alhamdulillah jilbabnya sudah makin
jadi identitas (keluar rumah dikit, pakai). Di sini juga berkesempatan ikut
ekstrakulikuler rohis (saat itu namanya irmush (ikatan remaja mushola)) di
samping menjadi aktivis pramuka. Sekolah penulis yang dianggap menjadi pusat trend fashionnya para remaja putri Tegal
saat itu (ini serius haha) pun pelan-pelan menjalarkan trend fashion tentang jilbab. Apa ya yang pertama terkenal itu? Ah!
Jilbab paris. Harganya 5 ribuan dulu kalau tak salah. Banyak remaja putri saat
itu memilih jilbab jenis ini karena diklaim tidak gerah jika digunakan meskipun
super tipis (selama peraturan sekolah mengizinkan). Meski ketipisannya ini
akhirnya banyak membuat beberapa teman mau menggunakan jilbab (mudah-mudahkan
sekarang semakin istiqomah). Disusul ciput (inner
jilbab) berbahan kaos yang nempel ke jidat (bukan ciput topi), dan tak lupa
bandana beraneka warna pun rupa yang kerap dikombinasikan dengan ciput. Super alay, tapi ya begitu masanya haha.
Malu nulisnya, tapi penulis pun dulu
begitu. Paling parah diantara yang lain, mungkin. Setiap hari selalu ada warna
atau model yang berbeda, terkadang jilbab yang bertahtakan bordiran jamur warna
merah berdiameter 3 senti disepanjang tepinya, ciput two-tone warna kontras yang kedua sisinya digunakan sekaligus
(haha), hingga bandana dengan bunga-bunga timbul lebih dari dua yang
dimunculkan sebagai hiasan ciput. Tak jarang penulis ditegur BK (maafkan aku, Bu. Hehe) karena menggunakan
warna-warna mencolok yang benar-benar tak senada dengan seragam sekolah.
Ada sesosok guru BK, yang kepada beliau,
penulis benar-benar ucapkan terima kasih, semoga Allah SWT senantiasa merahmati
beliau. Jilbab yang digunakan memang sudah panjang (cukup panjang bagi remaja
dengan tinggi 160 cm dan berat badan 40sekian hehe), namun terlalu tipis.
Hingga terkadang memicu Ibu ini untuk
menegur penulis, “maasyaAllah, cantik
sekali anak didik kebanggaan ibu satu ini jilbabnya ada bordir-bordir merahnya.
Tapi, pasti akan lebih cantik kalau jilbabnya tidak menampakkan rambut
panjangnya.” Entah sudah berapa kali beliau mengatakan hal semacam itu. Mungkin
lebih dari 7(?), sungguh.
Suatu peristiwa yang mengguncangkan
batin pun terjadi. Entah ini rahmat atau musibah, hanya mecoba berprasangka
baik pada Allah SWT. Ayah meninggal. Waktu itu Minggu, 15 Januari 2012 (tepat penulis
berulangtahun yang ke-16, saat itu masih duduk di tingkat kedua sekolah
menengah atas). Beliau sudah tak sadarkan diri sejak hari Jumat sebelumnya.
Saat itu (Jumat, 13 Januari 2012), kali pertama penulis melihat ibu (kandung) yang sudah menggunakan jilbab
(untuk waktu yang lama, tak hanya saat perjalanan jauh saja). Rupanya, alm.
ayah sempat mengatakan sesuatu saat hari Rabu (11 Januari 2012) pada ibu, “Ibu
cantik. Pasti ibu makin cantik kalau pakai jilbab kaya Mba Rizka”. Allah, Sutradara Terbaik. Semoga ibu istiqomah.
Tidak lama setelah itu, adik pertama
penulis lulus dari sekolah dasar dan masuk ke sekolah menengah pertama. Jilbab
yang tengah berkembang dan mulai banyak orang mengenakan itu pun menjadi
penampilan baru dari adik penulis. MaasyaAllah.
Kalau kata seseorang,
“Da’wah itu seperti kamu mencoba suatu
makanan yang benar-benar enak. Karena begitu enaknya, kamu menjadi ingin orang
lain merasakan apa yang kamu rasakan agar sama-sama merasa senang telah mencoba
makanan yang benar-benar enak.”
Sejatinya bukan “kamu” yang berjasa
karena telah membuat makanan itu dikagumi banyak orang. Makanan itu dikagumi oleh
banyak orang hingga bahkan laris manis karena sang peracik yang sudah membuat
resep dengan begitu sempurnanya.
Lanjut ya hehe. Penulis pun lulus dari
sekolah menengah atas tahun 2013 dan mencoba segala upaya terbaik (yang ahsan ya hehe) untuk masuk ke perguruan
tinggi yang diinginkan. Alhamdulillah
diterima di beberapa perguruan tinggi (ga
perlu disebut sepertinya, karena ga
satupun di ambil). Sekali lagi, entah ini rahmat atau musibah. Karena kalau
diambil, mungkin (mungkin, karena Allah Yang Maha Tau, bukan?) penulis yang kalian tahu sekarang tidak akan seperti ini.
Memutuskan untuk menunda kuliah selama satu
tahun. Penulis yang berdomisili di Tegal pun berpindah ke Bogor, kebetulan ada
banyak kerabat dekat di kota hujan satu ini. Dengan izin Allah, rasanya banyak
sekali sentuhan hidayah yang penulis rasakan di tempat ini, di setiap jengkal
kotanya.
Di kota ini, penulis tinggal dengan
bulik yang dulu (saat duduk di bangku sekolah dasar) turut menghabiskan waktu untuk
merawat penulis bersama mbah uti, semoga rahmat Allah SWT senantiasa menyertai
langkah beliau. Beliau memiliki 5 orang anak (anak laki-laki sulungnya sudah
berpulang ke rahmatullah tak lama setelah ayah). Anak perempuan pertamanya
(anak ke-2) yang saat itu berusia 15 tahun bersekolah di sebuah sekolah islam
terpadu. Lama sekali penulis tak berjumpa dengan gadis cantik ini. Dulu saat
kecil, dia hobi sekali melempar-lempar barang dan berteriak-teriak jika kesal. MaasyaAllah, dia tumbuh menjadi remaja
yang benar-benar menjaga diri (meskipun dia merasa dirinya biasa saja).
Dia lebih memilih berjalan kaki dari
depan perumahannya ke rumah yang jaraknya beberapa kilometer saat pulang
sekolah (dari sekolah menengah pertama) dibanding naik ojeg, bukan karena tidak
punya uang apalagi menghemat uang jajan, “bukan muhrim” katanya kala itu polos.
Susah payah belajar naik motor dengan menggunakan rok berlapis hanya untuk
mengupayakan agar auratnya terjaga dari mata yang tak berhak. Meluangkan waktu
sejenak lebih dulu dibanding beberapa orang lainnya sesaat sebelum bepergian
hanya untuk merangkap dua jilbab paris warna-warni kesukaannya. Yap! Kami
sama-sama pengguna jilbab paris (kala itu). Bedanya, penulis pakai 1, dia pakai
2 bahkan 3.
Hingga suatu ketika, kami ingin pergi
bersama ke suatu tempat hanya untuk mencoba kedai zuppa soup yang belum lama buka.
Beberapa menit sebelum pergi, seperti biasa sepupu
penulis ini melipat dua jilbabnya untuk digunakan nanti. Entah apa yang
dipikirkan oleh penulis kala itu (yang alhamdulillah
penulis syukuri sekali hingga detik ini), penulis meminta sang sepupu mengajarkan cara merangkap dua
jilbab paris. Dua jilbab paris polos berwarna merah muda.
Hari itu, adalah hari pertama penulis
tau caranya merangkap jilbab (meski belum serapi dan secepat kini), hari yang
penulis yakini bahwa Allah sudah siapkan segala sesuatunya dengan baik (mohon
doa agar senantiasa istiqomah). Terima kasih, seseorang yang telah
mengajarkannya, semoga hidayah Allah selalu atasmu, dan rahmat Allah senantiasa
melingkupi langkah-langkahmu.
Wallahu a'lam bishshowab...
Semoga
Allah senantiasa membelai lembut hati-hati kita.
Salam
dari 20 Maret 2018 di kota hujan,
